Astagfirullah Gagal Lagi dan Alhamdulilah Mendapakan Pelajaran

Keinginanku menjadi penulis semakin menggebu ketika aku memasuki jenjang pendidikan perguruan tinggi. Saat itu, banyak organisasi yang aku ikuti untuk meluapkan keinginanku akan karya tulis. Untuk pertama kalinya, bersama teman-teman yang tergabung dalam satu kelompok, mencoba menuangkan ide. Dan aku, sebagai ketua harus bertanggung jawab untuk meyakinkan pembimbing mengenai tulisan kami sebelum dikirim dalam perlombaan.

Waktu sudah menunjukan pukul 7 malam, masih sekelompok mahasiswa menyiapkan bahan untuk presentasi. Sangat mengejutkan saat itu, kelompok kami menjadi undian pertama. Aku memaparkan semua ide-ide kami. Tapi, kemudian mendapat kritikan pedas dari para pembimbing.

Kalimat-kalimat itu masih terekam jelas. “Tulisan apa ini, mana mungkin dilombakan”. Kemudia juri lain menimpal “Iya, benar. Ide kalian ini bertentangan”. Semua itu, cukup membuat kami sedikit mengernyit.

Tapi, kemudian kami berunding. Ada beberapa  teman yang menyerah dan mengiyakan pernyataan juri.

“Kita sudah sampai disini, mana mungkin kita menyerah”. Mencoba meyakinkan teman-teman.

“Mereka bilang tulisan kita ini ugly”.

“Iya, setidaknya kita memiliki bayangan. Jika tulisan kita ini tetap diikutsertakan maka akan menjadi sia-sia”. Timpal teman yang lain.

Ini menjadi tantangan bagi kami sebagai penulis awal. Kami langsung dihadirkan pada suatu keadaan yang membuat down.

“Baiklah, kita tidak mungkin melakukan perubahan ide. Menurutku tidak ada yang bertentangan, mengenai tulisan yang belum sempurna maka kita harus sempurnakan”. Tiba-tiba salah satu teman berubah pendapat.

“Kamu benar, kita mungkin gagal diawal tapi kita mesti yakin ini bisa menjadi pembelajaran berharga”. Timpalku lagi.

Kali kedua pengajuan karya tulis, kami tidak melakukan perubahan ide hanya sedikit modifikasi. Tapi, kemudian dikatakan masih belum optimal.

“Saya nilai tulisan kalian belum memenuhi”.

Ah, berkali-kali mendengar kata-kata pedas dan gagal. Semakin terpacu untuk menyempurnakan tulisan ini. seperti yang dikatakan diawal, tidak mungkin menyerah setelah berjalan sejauh ini.

Terinspirasi dari pribahasa “Semakin tinggi suatu pohon, semakin besar badai menerpanya”. Kami terus melanjutkan perjuangan sebagai penulis amatir.

Tiap kali melewati tahap pengujian, kami mencoba mengevalusi dan mencari solusi dari kekurangan karya kami,  melalui diskusi kelompok ataupun dengan senior. Hingga suatu ketika terpikir untuk merubah ide.

“Apa tulisan kita tidak layak?”. Sembari membolak-balik kertas.

Serontak teman-teman melihat kearahku dengan pandangan terheran-heran.

“Maksudmu?  setelah aku meluangkan banyak waktu untuk semua ini, kamu katakana kita harus merubah idenya”.

“Kita sudah pada tahap ini, apa  kamu baru menyadari?”. Timpal seorang teman yang harus menghentikan desain grafisnya untuk penyempurnaan karya tulis kami.

“’Aku lelah”.

Perdebatan pun tak terelakan lagi. Sebagai ketua aku membuat mereka mengikutiku sejauh ini.  aku hanya sedikit berusaha berfikir rasional karena aku pun tidak ingin mereka menghabiskan waktu untuk ide yang tidak pernah mendapatkan apresiasi. Karya  kami mungkin bisa lebih dihargai dengan ide lain.

“Sudah banyak waktu dan tenaga menyitaku untuk kagagalan ini”. Sembari menyerahkan hasil desainnya kepadaku.

Tapi, aku mencoba mengingat kembali semua yang telah kami lewatkan. Bukan ini yang mestinya terjadi. “Astagfirullah kita gagal”.

“Iya, kita memang telah gagal  dan aku tidak menyangka kamu baru meyadarinya”.

Teman-teman terheran-heran untuk kedua kalinya, melihatku tersenyum sumringah.  “Kita telah gagal karena kita sendiri tidak mencoba menghargai karya ini”.

“Aku  mohon, jangan membuat kita semakin bingung”.

“Aku minta  maaf, tidak seharusnya kita merubah ide ini hanya  karena kritikan-kritikan itu, kalian percaya bahwa kritikan mereka  sebagai tanda bahwa mereka membaca  karya kita”.

Kami terdiam mencoba merenungkannya. Kemudian satu teman “Iyah, bagaimana mungkin kegagalan tidak terjadi jika kita saja tidak bisa menghargai karya sendiri”.

Kemudian teman yang lain menimpal “Kita harus belajar dari kegagalan”.

Nampaknya, kami mendapati spirit baru. Tidak pernah menyangka kegagalan bisa menjadi motivasi terbesar untuk berkarya.

“Kita  harus percaya bahwa kita bisa dan layak menjadi penulis”.

Presentasi pun membuahkan hasil, untuk pertama  kalinya pembimbing mengiyakan kami untuk mengikuti tahap selanjutnya. Tidak peduli menang atau kalah, yang pasti kami tidak akan menyerah.

Sangat mengejutkan, kami berada pada urutan ke-1 dari sepuluh besar finalis dan itu menjadi hadiah terbesar kami. Dari kegagalan kami belajar dan dari belajar itu pula kami mendapatkan hadiah terindah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s